Roti Bakar dan Kukus Favorit Mahasiswa Universitas Padjajaran

Wisatakuliner.org- Roti bakar bisa menjadi camilan yang harganya tidak begitu menguras kantong mahasiswa, oleh karena itu camilan satu ini menjadi favorit para mahasiswa UNPAD. Di sekitar kampus Universitas Padjajaran (UNPAD) Jatinangor, ada roti yang sangat populer yakni roti Tom & Jerry.

Jajanan ini selalu ramai pengunjung, lokasinya ada di Jalan Raya Ciseke, Sumedang, Pak Ono dan Pak Ade adalah pencetus usaha ini. Saat mendirikan usaha ini mereka mempunai sejarah yang cukup panjang dan unik. Awalnya roti bakar dan kukus Tom & Jerry ini tidak memiliki nama dan belum bisa membuahkan hasil sehingga Pak Otang selaku pemilik pertama menyerahkan usaha ini kepada Pak Ono dan Pak Ade.

Mereka berdua adalah kakak beradik, mulai mengelola usaha ini dari nol pada tahun 2008 dengan bermodalkan gerobak bakso yang dipinjamkan oleh temannya. Nama Tom & Jerry diambil karena pemilik merasa tersaingin oleh usaha yang berada di dekatnya yakni Tahu Spongebob. Diambil dari film kartun akhirnya keduanya memilih nama Tom & Jerry yang juga mempresentasikan dua jenis ukuran rotinya yakni Tom untuk roti ukuran besar dan Jerry untuk roti ukuran kecil.

Saat masih merintis, varian rasanya sangat terbatas yakni cokelat, kacang, strawberry dan keju. Tapi saat ini roti bakar dan kukus Tom & Jerry sudah menyediakan kurang lebih 30 varian rasa. Chocomaltine, tiramisu, greentea dan kornet keju menjadi varian rasa yang banyak diminati oleh pembeli. Selain rasanya yang nikmat harga yang murah menjadi daya tarik para mahasiswa. Satu porsi roti ukuran kecil dijual dengan harga 5.000 sampai 10.000 dan ukuran besar harganya 12.000 sampai 25.000.

Roti bakar dan kukus Tom & Jerry ini buka setiap hari mulai jam 5 sore sampai dengan 11 malam. Setiap harinya, mereka bisa menghabiskan 200 buah roti ukuran kecil dan 50 buah roti ukuran besar dengan rata-rata penghasilan 1.500.000 per hari. Selain para mahasiswa Universitas Padjajaran roti ini juga menjadi pilihan bagi wisatawan asing yang sedang berkunjung ke Jatinangor, seperti orang Malaysia dan Hongkong karena makanan ini cocok dengan lidah mereka.